Kamis, 21 April 2016

Ikhlasmu adalah Maafku

ku adalah belenggu dalam jiwamu
Aku adalah terali dalam hatimu
Namun Sayangku adalah nadimu
Dan cintaku adalah darah dalam jantungmu

Aku tak akan pernah bisa pergi darimu
Aku akan selalu ada dalam hidupmu
Tapi,aku salalu menancapkan duri di hatimu
Maafkan aku…

Sungguh tak ada maksud dihati dan jiwaku
Takdirlah yang mungkin ingin kita seperti ini
Bersedihlah karena dusta dan sifatku
Menangislah karna kita tak dapat bersatu

Maaf… maafkan aku…
Aku yang selalu membuatmu menangis
Aku yang telah membuatmu terluka
Dan aku yang akan selalu sayang padamu

Sungguh Tak akan pernah ada kata di bibir
Sungguh tak akan pernah ada niat di hati
Untuk aku meninggalkan dirimu
Aku terlalu sayang padamu
Namun… maafkan aku…

Bukan pelangiku

menatapnya membuatku gelisah
resah jika ia menangis
khawatir karena matanya memerah

layaknya angin di atas bukit
ia selalu hadir walaupun berganti
tak peduli hadirnya menyakiti
ia hanya ingin dianggap berarti

seperti laut setia melukis langit
membagi kehidupan silih berganti
melantunkan melodi di sela mimpi-mimpi

kau memberi warna di hidupku
walau kau bukan pelangi di langit ku

Lukisan Malam

Malam ini aku ingin terjaga
Memandangi bintang-bintang
Bercerita pada sang rembulan
Malam ini ingin aku melukis
Seraut wajah yg slalu terbayang
Ingin aku melukis di langit malam
Dengan Berbagai bentuk warna
Merah ku poleskan pada lekuk bibirnya
Hitam pada rambut panjang terurainya
Putih bercampur coklat muda pada
Lembut kulit halusnya
Biru dengan sedikit hitam dan putih
Pada bola mata yg slalu menatapku tajam
Sungguh lukisan indah dengan tinta
Tanpa pudar yg sengaja ku pinjam
Pada Sang Malaikat Cinta
Semoga lukisanku ini tetap tersenyum
Dan memandangiku penuh kebahagiaan